“Because it’s there”, itulah jawaban yang diberikan oleh George Mallory saat ditanya mengapa ia ingin mendaki Everest. George Mallory bermimpi menjadi orang pertama yang mendaki Everest Pada 8 Juni 1924, dia bersama rekan pendakinya, Sandy Irvine terlihat terakhir kali 800 kaki dibawah puncak. Awan menyelimuti, mereka tidak pernah terlihat muncul lagi, hilang ditelan kejamnya pegunungan Himalaya.
Pendakian pertama gw sekitar akhir tahun 2004, pada acara Pengenalan Alam Raganala. waktu itu dilakukan di Gunung Welirang (3156 mdpl). Pendakian tersebut ditujukan kepada para calon anggota muda Raganala tentang pengenalan medan pendakian yang sesungguhnya setelah sebelumnya dibekali materi tentang mendaki gunung.
Hal pertama yang gw lakukan sebelum memulai pendakian adalah meminta restu kedua orang tua. “kamu boleh ikut pecinta alam, tapi jangan ikut kalo mau naik gunung” begitu kata ibu ketika gw bercerita tentang rencana gw mendaftar di Raganala, kelompok pecinta alam di sekolah.
“Apa artinya menjadi pecinta alam tanpa pernah mengenal alam” dalam hati gw berkata. Gw merengek pada ibu saat itu, “mohonlah sekali saja aku di ijinkan ikut mendaki wahai ibunda”. Dan dengan wajah memelas, ibu mengijinkan dengan berkata. “Berapa ibunda harus membayar untuk pendakianmu, anak muda?”. gw jawab tak perlu, restu ibu sudah lebih dari cukup untuk pendakian pertamaku ini.
Sebelum berangkat, gw menyiapkan bekal begitu banyak, seperti akan minggat dari rumah saja. Mie instan, beras, snack, permen, kue, dan peralatan mandi komplit ada dalam daftar bawaan dan semuanya baru, termasuk pasta gigi dan sikatnya. semua bekal gw masukkan dalam tas sekolah karena memang saat itu gw belum punya carrier, tas sekolah terasa begitu penuh sampai tak ada lagi tempat untuk menaruh buku, terpaksa buku gw bawa begitu saja tanpa bisa dimasukkan ke dalam tas.
Untuk peralatan, gw sudah mempersiapkan kompor kaleng, panci kecil, piring dan gelas plastik. Tenda dome, sleeping bag? itu hanya mimpi, saat itu gw cuma membawa jas hujan model ponco lengkap dengan tali rafia yang akan gw dirikan sebagai bivak di gunung nanti disertai matras alas setrika milik ibu sebagai lantainya. Untuk jaket, gw cuma membawa jaket ala kadarnya milik ibu yang memang lebih tebal dan lebih hangat karena disitu ada kasih sayang dan doa ibu yang mengiringi selama perjalanan. Sebagai alas kaki gw memakai sepatu kets dan sandal jepit bergantian sepanjang perjalanan.
Siang hari sehabis sholat jumat, para peserta dan panitia berkumpul di sekretariat Raganala untuk persiapan terakhir dan check list peralatan. Ada beberapa peserta yang kembali pulang kerumah untuk mengambil peralatan yang kurang. Selepas sholat ashar, kita berangkat menuju pos perijinan gunung welirang naik angkot. Rp. 3000,- untuk perjalanan Sidoarjo-Pandaan dan Rp 3000,- lagi untuk perjalanan Pandaan-Tretes (pos perijinan Arjuno-Welirang) saat itu.
Pos Perijinan Arjuno – Welirang
Tepat sehabis maghrib kami tiba di pos perijinan gunung Arjuno-Welirang, setelah sholat dan mendaftar kami langsung berangkat. Tujuan pertama langsung menuju pos Kop-kopan. Perjalanan baru nyampe Pet Bocor (pos 1) yang memakan waktu 30 menit, gw sudah kehabisan napas. Setelah beristirahat dan mengambil air di pet bocor, kita melanjutkan perjalanan menuju kop-kopan. Perjalanan yang biasanya selama 3 jam harus kita lalui selama 6 jam. Maklum saat itu sebagian besar dari kami memang pemula.
Pos Kop-Kopan
Tanpa beristirahat, gw langsung membongkar isi tas gw untuk persiapan mendirikan bivak. Bivak dari ponco yang beralaskan matras strika milik ibu terasa begitu mewah, walaupun tidak dapat menutupi seluruh badan karena ukuran bivak yang kurang panjang, terpaksa kaki gw menyembul keluar saat tidur didalamnya. Setelah bivak selesai dibangun, gw mengambil air dan membagi tugas dengan teman-teman untuk memasak makan malam. Nasi dan Mie instan serta kopi panas mengakhiri malam itu di pos kop-kopan, didalam ponco masing-masing kami beristirahat mempersiapkan perjalanan esok hari.
Keesokan pagi, pertama kali gw melihat keindahan alam dari atas gunung, walau bukan dari puncaknya tapi terlihat begitu indah, pemandangan gunung penanggungan di pagi hari begitu jelas terlihat karena langit begitu cerah. Bergantian kami mengambil foto dari kamera analog dengan film yang hanya sanggup memotret 36 frame, saat itu kamera digital belum sepopuler sekarang.
Puas melihat sekeliling, kami kembali ke camp untuk mempersiapkan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan, kembali nasi putih, mie instan, dan kopi menjadi satu-satunya pilihan makanan. Selelah makan, gw membereskan bivak dan mengepaknya kembali ke dalam tas sekolah gw dan melanjutkan perjalanan menuju pos Pondokan.
Pos Pondokan
Saat itu, Jalur pendakian Kop-kopan hingga Pondokan terdiri jadi jalan setapak berpasir yang dilalui oleh penambang belerang setiap hari, kini jalur tersebut telah berganti dengan jalan makadam yang cukup lebar untuk dilalui jeep-jeep pengangkut belerang hingga pos Pondokan. Perjalanan dari Kop-Kopan – Pondokan yang biasanya selama 3-4 jam perjalanan saat itu harus kami lewati kurang lebih selama 6 jam perjalanan karena saat itu keta membawa banyak peserta dan sering sekali beristirahat karena memang sebagian dari kami merupakan pendaki pemula yang baru pertama kali naik gunung.
Setiba di Pondokan kami beristirahat dan tidak meneruskan perjalanan ke puncak Gunung Welirang karena waktu yang tidak memungkinkan. Setelah beristirahat dan menikmati pemandangan kami kembali ke melanjutkan perjalanan turun ke Kop-Kopan hingga pos Perijinan.
Walaupun tidak sampai puncak, tetapi perjalanan pertama gw lakukan dengan sukses, suatu kegembiraan dan kebanggan tersendiri bahwa gw sudah pernah mendaki gunung, terlihat sangat keren bagi gw waktu itu. Setelah sampe rumah, gw bercerita banyak pada ibu tentang pendakian pertama gw dan ibu menanggapi dengan biasa saja. Petualangan gw selanjutnya berlanjut hingga Diklatsar Raganala ke-VIII di Kali putih, disitulah pintu gerbang petualangan gw bersama anngota Raganala Angkatan VII yang tersisa 8 orang. Gw, Kadir, Tekek, Sex, Khabib, Loedroek, Lia, dan Nanik. Delapan orang yang tersisa dari 11 orang peserta Diklatsar Raganala VIII.
Setelah Diklat dan dinyatakan resmi sebagai anggota Raganala angkatan VIII, beberapa minggu kemudian secara tiba-tiba Ayah adn Ibu membelikan sebuah tas carrier. gw sangat terharu saat itu, ibu yang sebelumnya tidak setuju terhadap pilihan gw mengikuti pecinta alam sekarang memberika dukungan penuh pada hobi baru gw. Tak hanya itu saat ibu berbelanja tak sengaja ibu melhat sebuah matras bertuliskan TNI AD seharga Rp. 12.000,- tanpa pikir panjang, ibu membelinya untukku sebagai tambahan bekal saat pendakian selanjutnya, gw tersenyum. Terima kasih ibu.
Pendakian pertama ke Gunung Welirang merupakan langkah awal gw untuk melakukan pendakian selanjutnya baik bersama Raganala, Shadow Adventure, teman sekolah maupun teman-teman di kampus dan banyak bertemu dengan teman baru sepanjang pendakian membuat gw semakin cinta dengan kegiatan ini, tak hanya gunung, pantai, air terjun dan hutan belantara menjadi tujuan gw melanjutkan petualangan bersama mereka.
Jika kalian punya pengalaman pendakian pertama atau petualangan alam bebas lainnya bisa di share disini.
~Salam Lestari~


