Overland Sumbawa – Perjalanan penuh cerita dan derita


One of the best part dari perjalanan libur lebaran kemaren adalah perjalanan melintasi pulau Sumbawa, dari Poto Tano di ujung barat hingga Sape di ujung Timur pulau Sumbawa sejauh kurang lebih 385km. Pulau Sumbawa adalah pulau terbesar di propinsi Nusa Tenggara Barat, dibagi menjadi 5 Kabupaten (kab. Sumbawa Barat, kab. Sumbawa Besar, Kab. Dompu, dan kab. Bima) dan 1 Kota (Kota Bima) dimana Kabupaten Sumbawa Besar menjadi pusat pemerintahan. Ya.. sesuai namanya Kabupaten Sumbawa Besar merupakan kabupaten yang sangat sangat besar dengan luas lebih dari 8.400 km2 atau lebih dari setengah luas pulau Sumbawa keseluruhan, bandingkan dengan Ibu Kota Jakarta yang hanya memiliki luas 661 km2.

Image Hosted by ImageShack.us

Peta Sumbawa

Semakin jauh dari rumah gw semakin menyadari bahwa Indonesia itu semakin indah, namun dibalik keindahan juga banyak menyimpan nestapa dan cerita pedih. Secara garis besar Sumbawa merupakan daerah pedesaan dimana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, nelayan dan peternak. Menyusuri jalanan sepanjang pulau kalian akan mendapatkan pengalaman berkendara yang luar biasa, semua komplit ada disini. Kondisi jalanan mulus (kek paha cherrybele) dan bebas macet seperti jalan tol melewati pedesaan, pesisir pantai, jalan pegunungan di tengah hutan dan sedikit jalan perkotaan, kontur jalan yang bervariasi, pemandangan indah sepanjang perjalanan dan senyum manis beberapa satwa membuat berkendara semakin menyenangkan. Namun, kalian juga harus mempersiapkan diri maupun kendaraan dengan baik karena jarak antara satu desa ke desa lain bisa berjarak lebih dari 20 km, demikian juga dengan jarak antar satu SPBU ke SPBU berikutnya bisa lebih dari 50 km, bisa dipastikan jika kalian mengalami masalah pada kendaraan di jalan, you’re absolutely in a big trouble. Just in case motor kalian tiba-tiba kehabisan bensin di jalan, siap – siap saja mendorong motor puluhan kilometer sendirian, karena ditempat yang jarang penduduk, jarang pula orang yang lewat berlalu-lalang.

Image Hosted by ImageShack.us

Jalanan mulus nan lengang, pemandangannya juga indah

Image Hosted by ImageShack.us

Istana Dalam Loka, salah satu peninggalan sejarah kerajaan Sumbawa

Image Hosted by ImageShack.us

Betapa besarnya Istana kayu ini

Jika memasuki daerah berpenduduk, kita bisa merasakan geliat masyarakat yang seolah-olah bergerak lambat dan begitu santai, tidak ada seorangpun yang buru – buru kecuali kernet bis yang lagi nyari penumpang. Pengalaman tersebut gw peroleh ketika gw terdampar sampai di kecamatan Plampang, Sumbawa besar setelah dini hari nyungsep di jalan gara-gara ngantuk dan kecapekan. Bayangkan jam 4 pagi, nyungsep sampai velg depan motor dan spakbor belakang hancur berantakan setelah menabrak gundukan perbaikan jalan. Untungnya gw gak terluka parah dan sudah masuk daerah berpenduduk dimana 500 m setelah TKP ada bengkel yang cukup besar yang bisa benerin motor gw, namun itu masih subuh dan gw harus nunggu 5 jam lagi sampe bengkelnya buka. Sembari nungguin bengkel buka, gw sempet jalan-jalan di kecamatan Plampang (yang besarnya hanya satu RW di daerah gw) dengan pusat keramaian ada di sekitar pasar yang tidak jauh dari TKP gw kecelakaan. Di pasar tersebut seolah orang datang dari penjuru desa berkumpul ke daerah tersebut, keberadaan pasar disana seperti pelita yang dikerubuti laron setelah hujan.

Image Hosted by ImageShack.us

Suasana pasar dipagi hari, senyap..!!

Setelah motor selesai diperbaiki, gw melanjutkan perjalanan dengan tujuan berikutnya pelabuhan Sape untuk melanjutkan perjalanan ke Flores. Selepas Plampang, jalanan masih didominasi dengan jalan datar melewati pesisir pantai hingga memasuki daerah pegunungan sebelum memasuki kabupaten Dompu. Kontur pegunungan yang cukup terjal dengan tebing-tebing curam di satu sisi dan lepas pantai di sisi lainnya memberikan pemandangan yang luar biasa indah selama perjalanan, ditambah sapaan dari kera hitam ekor panjang yang banyak nongkrong di pinggir jalan memberikan kesan luar biasa dalam perjalanan, namun kita juga harus hati-hati karena kera – kera biasa menyeberang sembarangan. Satu hal yang menjadi mimpi buruk adalah jika tiba-tiba motor kehabisan bensin atau ban kempes di tengah hutan, apa iya kera yang mau bantuin.

Image Hosted by ImageShack.us

Salah satu pemandangan dari atas bukit di tengah hutan

Selepas  kawasan hutan yang eksotis sekaligus menegangkan, kalian bisa bernafas lega karena artinya kalian sudah dekat ke kabupaten Dompu dan bertemu kembali dengan peradaban. Dari kabupaten Dompu kalian bisa melihat indahnya jajaran pegunungan Tambora yang letusannya melegenda dan mengubah sejarah peradaban diseluruh dunia. Letusan Tambora pada tahun 1815 turut andil dalam perubahan iklim global, benua Eropa dan Amerika Utara kehilangan musim panas mengakibatkan gagal panen dan kelaparan karena debu vulkanik Tambora menutupi sebagian besar bumi belahan utara. Sejenak tubuh gw merinding melihat gunung Tambora dari jauh, membayangkan bagaimana dulunya gunung dengan ketinggian lebih dari 4.300mdpl meletus menyisakan hingga separuhnya (2.851mdpl), suara gemuruh letusan yang terdengar hingga pulau Sumatera 2.000km jauhnya dari Tambora, jutaan ton debu vulkanik menghanguskan beberapa kerajaan di Sumbawa hingga bali, ngeri rasanya membayangkan kiamat kecil pulau Sumbawa kala itu. Hanya dengan menatap gunung Tambora gw bisa merasakan ke-Maha Kuasa-an Tuhan yang mampu memolak balikkan bumi dalam sekejap saja. Tiba-tiba gw merasa kecil dan tidak berdaya.

Image Hosted by ImageShack.us

Senja di kota Bima

Selepas kabupaten Dompu gw memasuki kabupaten Bima dan kota Bima, di kota Bima atmosfer pembangunan sedikit terasa. Memasuki Bima dimula dari daerah pesisir pantai yang indah, disini hilir mudik kendaraan mulai ramai, di pusat kota terdapat bandara M. Salahuddin. Sebaiknya kalian mengisi bahan bakar kendaraan di Bima jika ingin melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Sape, karena perjalanan menuju Sape melalui jalan pegunungan yang cukup panjang dan menguras bahan bakar dengan cepat.

Perjalanan menuju Pelabuhan Sape dari kota Bima melewati jalan turunan dan tanjakan terjal yang tidak begitu lebar, harus ekstra waspada terutama jika berpapasan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Begitu sampai di pelabuhan Sape, gw langsung tertunduk lemas karena kapal yang akan membawa maki ke Flores sudah berangkat 20 menit yang lalu dan kapal selanjutnya baru ada ke esokan harinya. Gw kecewa, karena gw sadar, dengan waktu yang gw punya gak akan cukup jika gw harus menunggu kapal berikutnya. Gw sadar perjalanan tidak bisa lebih jauh lagi dan gw harus kembali, kembali menyusun escape destination untuk melanjutkan petualangan.

Image Hosted by ImageShack.us

Patah hati di Pelabuhan Sape

Masyarakat Sumbawa sebagian besar adalah pemeluk agama Islam yang taat tetapi kepercayaan dan ritual-rital tradisional masih terus mempengaruhi kehidupan penduduk sehari-hari. Tidak jarang perselisihan mengenai kepercayaan terjadi di masyarakat dan mengakibatkan beberapa kerusuhan terjadi di beberapa tempat. Gw sempat mengikuti pembicaraan warga yang membahas mengenai perbedaan aliran dalam kepercayaan yang mengakibatkan kerusuan didesa mereka dan upaya-upaya untuk membuat perdamaian. Semoga saja kerusuhan tidak terjadi lagi karena sangat disayangkan jika pulau yang indah dan damai ini dirusak oleh perbedaan segelintir orang.

Perjalanan melintasi pulau Sumbawa memberikan banyak pelajaran bagi gw, selama perjalanan gw berinteraksi dengan penduduk sekitar, bermalam di masjid-masjid penduduk sembari mendengarkan cerita masyarakat membuat gw merasa beruntung, beruntung bisa mendapatkan banyak sekali pelajaran mengenai kehidupan, kebesaran Tuhan dan rasa syukr karena gw telah dilahirkan di negara ini. Bayangkan, satu pulau saja sudah luar biasa menarik, bagaimana dengan 17.000 pulau lainnya di Indonesia. Indonesia itu kaya, sayangnya dipimpin oleh penguasa yang miskin, miskin hati dan rasa kemanusiaan.

Image Hosted by ImageShack.us

Awas… Sapi berkeliaran

Yang harus diperhatikan selama di Sumbawa:

  • Waspada terhadap perbaikan jalan, walaupn sebagian jalan di Sumbawa mulus dan lebar, dibeberapa titik masih ditemui bekas gundukan perbaikan jalan, waspada jika tidak ingin nyungsep seperti gw.
  • Disepanjang jalan kalian bisa menemui KUDA dan SAPI yang berkeliaran dijalanan, tidak jarang mereka seenak udel tidur di tengah jalan. Dibuktikan dengan adanya beberapa bekas anak sapi yang gepeng dilindas kedaraan besar.
  • Jika berkendara malam hari, pastikan kendaraan kalian memiliki penerangan yang benar-benar bagus, karena SEBAGIAN BESAR jalanan di sumbawa tidak memiliki penerangan jalan.
  • Isilah bahan bakar kendaraan SETIAP kalian menemukan SPBU terlebih jika menggunakan motor, karena SPBU terdekat berikutnya bisa berjarak 50km dan tidak semua kampung ada penjual bensin eceran.
  • Menggunakan angkutan umum SANGAT TIDAK DISARANKAN kecuali kalian menginginkan pengalaman seperti sahabat gw ini. Naik BENHUR (sebutan untuk delman di Sumbawa) mungkn menyenangkan jika ingin sekedar berkeliling kota.
  • Hotel dan penginapan sangat jarang, hanya terdapat si sekitaran pelabuhan, di pusat kota Sumbawa Besar, Dompu dan Bima. Jika terpaksa anda bisa bermalam di masjid atau rumah-rumah penduduk <– gw banget, orang – orang Sumbawa baik koq.
Iklan

13 pemikiran pada “Overland Sumbawa – Perjalanan penuh cerita dan derita

    1. enaknya bisa berhenti dimana aja, bisa kumpul2 bareng sama warga juga, banyak cerita2 dari sana. selain tempatnya bagus, orang2nya juga luar biasa, itu yg paling berkesan

      1. Pastinya… setelah cerita2, ujung2nya dikasih makan kemudian bilang “nginep dirumah saya aja mas”. ya Allah… surga banget rasanya

    1. salam kenal bro.. tadinya mw naik Honda CB, tapi berhubung kondisinya kurang fit jadi beralih ke Revo hehehe.
      boleh lah mampir kalo kemudian hari ke Sumbawa lagi.
      main2 ke Jawa bro

  1. Awal Juni rencana mo ke Tambora,….. In Sha Allah, terimakasih atas tulisannya. Saya coba juga pakai motor serupa dari Kalimantan. mohon do’a ya moga sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s